Maafkan bila saya mengeluh

Hari ini, di sebuah bus, aku melihat seorang gadis cantik dengan

rambut pirang.

Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan kuharap akupun sama.

Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan.

Dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu.

Namun ketika dia lewat, dia tersenyum.

Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh.

Aku punya dua kaki.

Aku berhenti untuk membeli bunga lili.

Anak laki-laki penjualnya begitu mempesona.

Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira.

Seandainya aku terlambat, tidaklah apa-apa.

Ketika aku pergi, dia berkata, "Terimakasih. Engkau sudah begitu baik.

Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu. Lihat saya buta."

Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh.

Aku punya dua mata.

Lalu, sementara berjalan,

aku melihat seorang anak dengan bola mata biru.

Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain.

Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya.

Aku berhenti sejenak, lalu berkata,

"Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, Nak?"

Dia memandang ke depan tanpa bersuara,

lalu aku tahu dia tidak bisa mendengar.

Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh.

Aku punya dua telinga.

Dengan dua kaki untuk membawa aku ke mana aku mau.

Dengan dua mata untuk memandang matahari terbenam.

Dengan dua telinga untuk mendengar apa yang ingin kudengar.

Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh.

Previous
Next Post »
Show comments
Hide comments